Beberapa sinetron maupun film televisi (FTV) kerap mengangkat karakter polisi yang hanya sebagai pengaman lingkungan sekitar, atau polisi hanya muncul saat scene di mana seorang ibu-ibu, seorang pemuda atau anak-anak sedang dalam bahaya, seperti dikejar copet, terlibat pencurian.
Setelah beberapa adegan tersebut selesai, lantas karakter polisi langsung hilang begitu saja dan kembali dengan inti dari cerita sinetron atau film tersebut.
Lalu, muncul stigma bahwa ada apa dengan perfilman tanah air. Apakah takut membuat sebuah karya yang menggambarkan realita sosok polisi di lapangan. Atau apakah belum bisa digambarkan bagaimana sebuah mekanisme kerja kepolisian dalam mengungkap sebuah kasus.
Apakah para sineas muda tanah air mendapatkan intervensi dari pihak tertentu atau takut dalam menghasilkan sebuah karya yang sesuai dengan realita yang ada.
Hal itu dibantah oleh Robby Ertanto. Sutradara film layar lebar 'Dilema'. Dia mengatakan bahwa film maker berkarya dengan jujur, tanpa intervensi dari pihak manapun.
"Film maker itu kan berkarya dengan jujur dengan realita yang dilihat. Selama apa yang ingin disampaikan sebuah realita jadi sah-sah saja," ujar Robby.
Robby pun tidak menampik bahwa fakta yang ada di lapangan mengatakan bahwa terdapat sosok polisi yang baik dan juga buruk. Polisi yang baik atau yang biasa disebut good cops, lanjut Robby, merupakan sosok yang memegang janji sumpah setianya terhadap fungsi dan tugas-tugas sebagai seorang polisi. Untuk polisi yang buruk atau biasa disebut bad cops ialah mereka yang memanfaatkan jabatan untuk melakukan tindakan tidak terpuji.
Dikatakan pria lulusan Institut Kesenian Jakarta tersebut, dirinya pun tidak takut membuat sebuah karya yang menonjolkan sisi negatif dari seorang polisi. Baginya polisi buruk dilakukan oleh seorang oknum, namun, untuk institusi kepolisian sendiri, Robby menilai tidak ada yang salah.
"Nggak juga. Menurut saya 'Dilema' bisa berbicara dengan jujur. Kita sama sekali tidak mendapatkan intervensi saat membuat film tersebut. Malah pihak kepolisian sendiri mendukung saat kita berikan gambaran jalan cerita yang akan dibuat," imbuhnya lagi.
Baginya, sekarang sudah zaman bebas, sudah bukan lagi terkekang saat masa-masa rezim 1998. "Saat ini sudah bisa menyuarakan apapun, cuma tergantung dari film maker saja bagaimana penggarapannya," terang pria yang juga menyutradarai film '7 Hati 7 Cinta 7 Wanita' ini.
"Sebagian orang sudah menyadari bahwa film sebagai karya seni. Bukan lagi mereka takut dengan adanya film kepolisian maka merasa dihina. Karena kita tidak menuju je institusinya tapi kita sasarannya individu. Karena yang salah individunya. Individu yang bermain," papar Robby lagi.
Bagi pria yang pernah berkolaborasi dengan produser Hollywood, Bryan Yuzna dan San Fu Malta ini menilai dalam film 'Takut', buruknya citra institusi kepolisian disebabkan ulah individu yang salah dan menjadikan kekuatan kepolisian tercemar. Dirinya pun tidak memungkiri bahwa masih adanya anggota kepolisian yang baik dalam arti kata menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya tanpa melakukan tindakan curang apapun.
"Banyak yang baik juga polisi, tapi kita tidak tahu saja. Kita juga tidak tahukan yang terjadi di atas (petinggi kepolisian) sana. Yang paling penting kita harus berbuat sesuatu, jangan malah ikut men-judge," papar Robby.
Terkait lemahnya citra institusi kepolisian di mata masyarakat, Robby pun menyayangkan sikap pemerintah yang tidak transparan dalam menjelaskan duduk perkara sebenarnya kepada publik.
"Opini publik dibiarkan untuk berkembang sendiri. Dengan berkembang sendiri muncul statement buruk soal polisi," pungkas Robby.
|
BERITA |
OLAHRAGA |
HUMOR |
SEKS |
RAMALAN BINTANG |





