Jumat, 23 November 2012

MUSIK DAPAT MEREDAM RASA SAKIT PADA MANUSIA

Bagikan Artikel Ini :
Musik disebut-sebut sebagai bahasa universal karena banyak ditemukan di berbagai budaya. Selain itu, musik juga banyak digunakan dalam berbagai terapi untuk relaksasi. Sebuah penelitian menemukan bahwa musik bahkan dapat meredam rasa sakit.

Temuan dari sebuah penelitian yang dilakukan Robin Dunbar dari Oxford University dibantu peneliti dari University of Liverpool dan Binghamton University menegaskan bahwa musik meningkatkan produksi endorfin, yaitu zat yang sering disebut sebagai candu alami.

Musik yang dimaksud adalah musik yang dilakukan dengan menari, menabuh drum, memainkan alat musik lain, hingga menyanyi. Sayangnya, efek positif dari musik ini tidak berlaku pada orang yang hanya mendengarkan musik.

Dunbar dan rekan-rekannya melakukan 4 percobaan berbeda. Pertama, 9 orang karyawan sebuah toko musik diminta menyaksikan 12 orang penabuh drum bermain musik selama 30 menit sembari bekerja. Setelah 10 menit, karyawan dan penabuh drum dites dengan cara ditekan bagian lengannya yang jarang digunakan.

Kesemua peserta diminta mengatakan kapankah tekanan mulai terasa sakit. Ternyata penabuh drum memiliki ambang nyeri yang lebih tinggi dan emosi yang lebih positif ketimbang karyawan toko musik. Artinya, penabuh drum lebih dapat menahan rasa nyeri ketimbang karyawan.

Percobaan kedua melihat layanan dari 2 organisasi keagamaan yang berbeda. Salah satu layanan melibatkan banyak orang bernyanyi, bertepuk tangan dan memanjatkan doa seperti bermusik. Organisasi satunya tidak menggunakan nyanyian. Ternyata peserta yang mengikuti layanan keagamaan diikuti bernyanyi memiliki ambang nyeri lebih tinggi daripada yang tidak bernyanyi.



Percobaan ketiga membandingkan musisi dengan penari yang sedang berlatih. Hasil percobaan menemukan bahwa penari memiliki tingkat endorfin yang lebih tinggi daripada musisi. Hal ini menunjukkan bahwa jenis latihan yang dilakukan ikut mempengaruhi produksi endorfin.

Percobaan keempat dilakukan dengan cara meminta orang mendengarkan musik klasik bertempo cepat dan lambat. Hasilnya, kedua kelompok melaporkan tidak mengalami peningkatan ambang nyeri sama sekali.

"Karena musik mempengaruhi peningkatan endorfin, maka masuk akal apabila manusia selalu terdorong untuk membuat musik sejak dulu," kata Dunbar seperti dilansir Medical Daily, Jumat (23/11/2012).

Dunbar berpendapat bahwa musik berevolusi dari kebutuhan untuk memperkuat ikatan dalam masyarakat. Namun ada teori lain yang menjelaskan bahwa musik berevolusi dari kebutuhan untuk menenangkan balita.

Jangan Lupa :

Labels

 
© 2013 AKHIRNYA KU TAHU - All Rights Reserved
Desain: DheTemplate.com | Main Blogger | Taru Sun

Template: Makeityourring Diamond Engagement Rings
Proudly powered: Blogger | Google | IDwebhost | Beritambah